Tips Agar Siap Secara Mental Untuk Menikah

02 September 2014 - Kategori Blog

tips siap menikah

Wolipop – Menikah adalah keputusan besar yang harus disertai dengan pertimbangan matang. Kesiapan menikah pun tak tergantung pada usia ataupun jenis kelamin Anda. Banyak yang siap menikah padahal masih berusia sangat muda, begitupun sebaliknya. Meski kesiapan finansial telah terpenuhi, namun kesiapan mental yang membuat pasangan menunda untuk naik ke pelaminan. Lantas, bagaimana meyakinkan hati agar siap untuk maju ke tahapan hubungan yang lebih serius? Berikut tipsnya dari psikolog dan juga konsultan cinta Wolipop, Ratih Ibrahim.

1. Kesiapan Mental Diri Sendiri
Ini adalah hal yang perlu dibangun dari diri Anda sendiri. Yakinkan diri bahwa pernikahan adalah awal yang baik dan bukan akhir dari kesenangan Anda. Dengan menikah, Anda pun masih bisa bertemu dan bersenang-senang dengan para sahabat.

2. Kecocokan dan Keyakinan Terhadap Pasangan
Perasaan cocok atau tidaknya dengan pasangan dapat memengaruhi keputusan Anda untuk menikah. Bila memang belum ada kecocokan dengan pasangan, maka evaluasi kembali sudah berapa lama Anda menjalin hubungan dengan pasangan dan bagaimana penilaian tidak cocok dengannya.

“Tidak ada pasangan yang sempurna, namun dengan ketidaksempurnaannya, bersediakah kamu berkomitmen menghabiskan hari-hari kamu dengannya?Apakah kamu dapat melihat di masa depan kalian berdua hidup bersama? Pertimbangkan dengan matang dan tentukan sikap,” tutur Ratih Ibrahim.

3. Komitmen dengan Pasangan
Agar makin siap melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, buatlah komitmen dengan pasangan setelah menikah nanti. Utarakan berbagai keinginan Anda dan pasangan saat telah menikah nanti. Misalnya saja ingin melanjutkan sekolah di luar negeri atau kesepakatan dalam mengasuh anak. Dengan begitu, Anda pun akan merasa lebih tenang dan tidak kaget ketika menjalani kehidupan rumah tangga dengannya nanti.

“Adanya komitmen dan kesepakatan bersama mengenai kehidupan pernikahan yang diinginkan, termasuk kesepakatan dalam mengasuh anak dan urusan finansial keluarga,” tambah pendiri Conseling and Development Center PT Personal Growth ini.

4. Perasaan Bahagia
Kesiapan untuk menikah datang pada mereka yang merasa bahagia menjalin hubungan dengan pasangannya, dan lewat perasaan bahagia itulah mereka memilih untuk menikah. Keputusan ini harus didasari atas rasa ketulusan dan bukanlah karena paksaan ataupun tuntutan.

“Satu hal yang pasti, kamu boleh bermain dalam hidup tapi jangan bermain-main dengan hidup,” tutup Ratih.

Sumber : Alissa Safiera – wolipop

,

There are no comments yet, add one below.

Berikan Komentar/Review Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Form yang wajib di isi ditandai *

Dapatkan Diskon
Daftar newsletter